Uniknya Santri Pesantren Tahfidz Muntilan

Uniknya Santri Pesantren Tahfidz Muntilan

Berbagai prestasi dalam Pondok Pesantren Darul Mujahidin Muntilan, telah di torehkan, tidak terhitung prestasi yang di anugrahkan untuk pesantren Muhammadiyah yang terletak di Magelang Jawa Tengah ini. Namun di balik itu semua ada kisah inspiratif yang dapat kita ambil. Ialah Tika Dwi Setyani, santriwati yang berasal dari Kaki Gunung Merbabu. Ia berasal dari keluarga yang biasa, pun ayahnya bekerja sebagai pedagang di pasar, sedang ibunya seorang tani. Tika memang tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya raya, atau di banjiri dengan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Awal ia masuk di Pesantren Tahfidz Darul Mujahidin Muhammadiyah Magelang, ia tampak biasa sekali, tidak memiliki hafalan, belum lancar membaca Al-Qur’an. Berangkat dari nol, ia mengikuti takhassus selama 3 bulan di Mahad MTS Darul Mujahidin.

Dari sinilah awal di mulainya petualangan dari Tika, dalam menempuh prestasinya. Ia berhasil menyelesaikan proses takhassusnya secara cepat yaitu dua bulan, serta bacaannya Al-Qur’an selama 3 bulan. Dari sinilah para asatidz mulai melirik kemampuan dari Tika, mulai dari sisi akademik maupun non akademik. Di tahun pertamanya ia di coba mengikuti kejuaraan Tahfidz tingkat Kedu, namun sanyang, di awal debutnya di kejuaraan, ia tidak mampu menorehkan preastasi untuk mahad. Tidak tanggung-tanggung di tahun yang sama pula, ia bersemangat mengajukan diri untuk mengikuti lomba sains matematika. Tetapi lagi lagi Allah belum menginginkannya sebagai sang juara. Tika pulang tanpa membawa apa-apa.

Di awal tahun pertamanya, Tika tidak mampu menorehkan prestasi, cukup minder memang, karna teman seangkatannya yang mengikuti perlombaan sukses, menorehkan prestasi. Di Tahun ini Tika mencoba untuk sekian kalin menembus ketatnya persaingan antar santri. Ia mencoba mengikuti perlombaan Tilawah tingkat kecamatan, dan alhamdulillah, kali ini Allah mengijabahinya untuk lolos kejuraan tingkat kecamatan. Prestasi yang pertama sebagai pemantik Tika untuk dapat bangkit dari kegagalannya di tahun yang lalu. Santriwati Pesantren Darul Mujahidin Muntilan ini, ditunjuk untuk mengikuti kejuaraan tingkat kabupaten yaitu Olimpicad Kabupaten Magelang, dan sekali lagi ia mampu membuktikan untuk menjadi juara. Tika sukses meraih jura II tingkat Kabupaten dan maju ke level Provinsi.

Kembali bangkit Santri pesantren tahfidz Muntilan dominasi juara

Di Tahun ketiganya Tika di tunjuk kembali menjadi pimpinan regu kepanduan Hizbul Wathan, kali ini, ia memiliki tugas yang berat dan tidak mudah. Perlombaan yang di ikuti selama tiga hari dua malam ini, menghabiskan waktu, dan tenaga. Tika harus mengkoordinir anggotanya agar menjadi regu yang kompak dan tentunya mendapat juara. Detik-detik pengumuman di bacakan. Satu persatu persatu dibacakan dengan perlahan, dan disebutlah nama Pondok Pesantren Tahfidz MTS Darul Mujahidin Muhammadiyah Muntilan sebagai juara II Kepanduan Tingkat kabupaten.Ia mampu membawa regunya menjadi sang juara. Tika juga merupakan peserta dengan tingkat ketangkasan yang tinggi di tingkat kabupaten dalam lomba kepanduan tersebut.

Di Tahun ketiganya ini, tika sekali lagi kembali di tunjuk mengikuti loba Tahfidzul Qur’an tingkat Kabupaten. Awalnya ia merasa minder karena pesaingnya kali ini, memiliki jumlah hafalan yang cukup banyak sekitar 10-15 juz, sedangkan Tika hanya memilki 6 juz saja, pada saat itu. Dan hati berdebar-debar satu persatu pertanyaan juri ia jawa dengan fasil dan tartil. Dan akhirnya Santri yang kini duduk di kelas III madrasah tsanawiyah Darul Mujahidin Magelang ini, mampu membawa juara II lomba Tahfidz. Hasil jerih payahnya, membuktikan bahwa ia mampu menjadi yang nomor satu. Di awal tahun ia di mahad tahfidz, Tika tidak mampu menorehnya prestasi, namun semboyan “man jadda wa jadda”, menjadi motivasi baginya untuk menjadi yang terbaik di berbagai ajang.

Dari sinilah kita dapat mengambil ibroh atau manfaat, bahwa keberhasilan tidak bisa di raih hanya dengan berpangku tangan dan keputusasaan. Hafalan Qur’an pun juga tidak secara instan di dapat. Karna yang paling sulit dari penghafal Al-Qur’an adalah mempertahankan hafalannya. Buka seberapa cepat ia mampu mengahafal.

Mari orang tua sekalian pesantren tahfidzdarul mujahidin muntilan, hadir memberikan pendampingan kepada putra putrinya agar menjadi penghafal Al-Qur’an yang bukan hanya hafal tetapi juga mutqin, serta dapat beprestasi baik akademik maupun non akademik. Kisa tika adalah sebagaian dari berbagai kiasa dari santri tahfidz mts darul mujahidin yang memiliki keunikan masing-masing dan tentunya kisah inspiratif bagi kita semua untuk menjadi insan yang mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *