Peran Pesantren di Era Globalisasi

Peran Pesantren di Era Globalisasi

Peran Pesantren di Era Globalisasi – Lantas, apakah yang sebenarnya sedang terjadi di abad ke-21, abad internet, yang serba teknis dan ekstraktif ini? Dari waktu ke waktu, kehidupan terus berubah begitu cepat dan dinamis. Penemuan teknologi di ruang cyber oleh satu orang di satu daerah tertentu dapat merubah dan menggoyangkan tatanan sosial masyarakat global di seluruh dunia dalam waktu yang sangat singkat. Apakah yang menyebabkan semua ini?

Tidak lain, semuanya akibat dari modernisasi yang bercorak industrial di negara-negara Barat beberapa abad sebelumnya. Sejak itu, dunia mulai terpengaruh oleh ekspansi modernisasi ini, situasi dan kondisi yang bercorak modern di negara-negara Barat tiba-tiba mengglobal. Kehidupan semakin mengarah pada penyeragaman, kita sedang masuk pada moda kebudayaan, ekonomi, sosial, dan politik yang persis hampir sama. Kita sedang masuk di abad modern yang mengglobal begitu pesat dan seolah tak terbendung.

Lalu bagaimana dengan eksistensi tipikal sebuah negara yang unik yang pada umumnya berlangsung secara tradisional dan cenderung tidak koheren dengan perangkat modernitas? Apakah ia masih mampu untuk bertahan di tengah penetrasi globalisasi yang seolah tak terbendung? Bagaimana dengan masa depan kehidupan pesantren di Indonesia yang secara kultural berlangsung secara tradisional, misalnya?

Ketakutan akan hilangnya kehidupan pesantren sebagai ruang pendidikan Islam yang efektif di kalangan muslim tentu saja wajar adanya. Meskipun demikian, ketakutan semacam itu nampak terlalu berlebihan rasanya. Pesantren justru memiliki peran dan andil yang tidak kecil di era modernisasi ini. Sekalipun ia dihadapkan pada rivalitas yang vis a vis dengan pendidikan formal modern yang diakomodasi oleh negara—institusi yang juga produk dari modernisme.

Bila kita lebih cermat mengamati perkembangan pendidikan formal modern dewasa ini. Nampak bahwa elemen pedagogis di dalamnya sedikit banyak berdampak cukup negatif bagi anak-anak didik yang menempuh pendidikan formal modern.

Semua itu, lebih diakibatkan oleh minimnya kontrol atas akses terhadap teknologi bagi anak didik. Hal ini mengakibatkan terjadinya anarkisme atas penggunaan teknologi oleh si anak. Mereka misalnya, dapat dengan leluasa mengakses hal-hal negatif di dalam teknologi seperti penggunaan internet. Selain itu, pendidikan formal modern lebih menitikberatkan pengajarannya pada ilmu-limu pengetahuan Barat modern. Sementara pengajaran spritual bukanlah menjadi perhatian yang utama. Hal ini jelas dapat mengakibatkan hilangnya moralitas secara kebudayaan maupun secara religius bagi si anak didik. Sangat besar kemungkinan bagi mereka untuk mengabaikan kewajiban-kewajiban mereka sebagai umat beragama, agama Islam misanya.

Pada titik inilah, pesantren masih memiliki daya tawar dan juga peran yang penting bagi pendiidkan anak di Indonesisa. Pesantren justru bisa menjadi alternatif yang efektif atas dampak-dampak buruk yang dihasilkan oleh globalisasi pendidikan formal modern.

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis pada pengajaran nilai-nilai moral dan agama yang efektif. Di dalam kehidupan pesantren, anak didik (santri) dibentuk melalui pengajian yang mendalam atas kitab-kitab klasik Islam yang masih terus direproduksi secara berkala. Persoalan syariat dan muammalah di dalam agama merupakan prioritas utama yang mencolok dari pesantren. Ia juga menjadi agen pelestarian budaya Islam yang sangat konkret. Fungsi mesjid di dalam pesantren lebih dari sekedar tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat terselenggaranya transfer ilmu oleh Kiai kepada Santri. Mesjid dalam hal ini memiliki fungsi yang begitu dinamis. Sebuah kultur yang mengingatkan kita pada zaman Nabi Muhammad yang mendirikan mesjid di Medina sebagai pusat mobilitas masyarakatnya.

Peran pesantren di era globalisasi sangat penting. Ia menjadi penawar di tengah dekadensi moral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *