Melihat Lebih Dalam Pesantren dari tahun 1997

Melihat Lebih Dalam Pesantren dari tahun 1997

Kyai Syadzali atau kyai peci miring begitulah namanya. Sosok karismatik yang mampu menggerakkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dan lapisan masyarakat. Sejarah menjelaskan ia mulai berdakwah di umurnya yang tidak muda lagi, karena masa mudanya ia habiskan untuk ikut berjuang bersama pasukan militer yaitu batalyon 426 yang dikenal dengan dengan “Batalyon Munawwar” Bahkan Syadzali muda ikut bergerilya di hutan-hutan melawan Belanda. Beliau juga tercatat sebagai RPKAD atau Resimen Para Komando Angkatan Darat, ia dipersenjatai granat bandul dan senjata laras panjang milik RPKAD.

Syadzali lahir pada tahun 1923, Jika di flasback 10 tahun kebelakang sejak beliau meninggal maka tercatat ia memulai debut dakwahnya di umur yang sudah Udzur, tertulis di Suara Muhammadiyah No.24. Dakwah bersama Muhammadiyah dimulainya di umur yang sudah senja. Bayangkan saja di foto tersebut umur beliau sudah 74 tahun, terhitung masih berjuang membangun Gedung Pondok.

Catatan sejarh juga mengatakan Kyai juga mewakafkan tanah seluas 1350 m untuk di bangun pesantren, harapannya jika ia tidak mampu lagi, maka akan ada generasi yang melanjutkannya. Waktu berganti, tahun demi tahun dilewati namun belum ada perkembangan yang jelas, hingga akhirnya ia berkata kepada menantunya

“Gus, ayo ….Pondok kae di bangun meneh” (Mari , Pesantren itu di bangun lagi) katanya kepada Agus Dwi Sat,salah satu menantunya yang menjabat sebagai Dosen di UNTIDAR, perlahan demi perlahan, pembangunan dilanjutkan kembali.

Coba bayangkan jika kita di posisi Kyai, mungkin sudah sakit hati dengan Panitia saat itu ya, tapi alhamdulillah di umur ke 83 tahun beliau tetap teguh membangun pesantren di temani jamaah dan para donatur yang tetap setia menemani, tanpa mempedulikan tanah tersebut sudah di hibahkan ke Muhammadiyah.

Hingga akhirnya beliau jatuh sakit, dan tak mampu berdiri lagi. Hebatnya dikala ia sedang sakit ,Kyai membisiki kepada Ahmad Sirdi (Kyai Ahamad Sirdi)

“Kowe jeh duwe preng pora? (kamu masih punya bambu tidak?). Menangis hati Kyai Ahamd Sirdi mendengar bisikannya. Di tengah umur yang sudah tua sekali, di tambah rasa sakitnya. Kyai Syadzali masih saja memikirkan pembangunan Pondok.

Akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir. Dan cita-cita Pondok Pesantren Darul Mujahidin inipun ikut pupus, atau bisa di katakan vakum selama bertahun tahun lamanya.

Waktu berganti, perlahan nama besarnyapun ikut ditelan waktu. Tahun 2017 adalah moment yang tidak terduga. Allah menunda cita-citanya namun Allah wujudkan ketika beliau telah meninggal. Adalah sosok anak-anak muda yang tidak pernah dilirik dan dilihat, bahkan namanya tidak terkenal. Umur mereka relatif masih bau kencur, Namun Allah memberikan amanah kepada mereka. Hingga akhirnya berdirilah Ponpes Darul Mujahidin Muhammadiyah dan terus berkembang hingga saaat ini.

Terkadang Allah memberikan hidayah bukan kepada mereka yang dekat namun bisa jadi orang yang tidak pernah bertemu, bersalaman, berfoto apalagi, duduk di majlisnya, justru orang yang tidak pernah dikenal ini yang mampu mengemban amanah.

Itulah rencana Allah, indah bukan?, lebih indah dari pada sinetron di TV atau Film film Korea.

Terimaskih Kyai atas perjuanganmu, kini saatnya para kader muda Muhmmadiyah yang akan melanjutkan tonggak perjuangan.

Jadi pembaca sekalian Muhammadiyah bukanlah alat, ia hanyalah wadah untuk berdakwah, tak perlu kecewa kepada Muhammadiyah saat itu, karena memang Allah belum memberikan kemampuan kepada personilnya pada era tersebut. Benar kata Kyai H Ahmad Dahlan, Hidup hidupilah Muhammadiyah.

Mari seluruh generasi Muslim kita hidupkan Amal Usaha Muhammadiyah tidak perlu menyakan apa yang telah Muhammadiyah berikan kepada kita tapi tanyakanlah pada diri kalian sendiri apa yang telah engkau berikan untuk Muhammadiyah, Umat dan Bangsa, tak perlu berkeluh kesah dengan Muhammadiyah, karena kita tidak mengharap balasan dari Organisasi yang umurnya sudah satu abad ini, namun balasan langsung dari pemilik segalanya “Allah”.

Sakit hati itu hal biasa, tandanya anda masih di dunia yang fana. Teruslah berjuang dan haraplah rahmat Allah semata.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *