Inilah cara mendidik anak menjadi Hafidz Quran

Inilah cara mendidik anak menjadi Hafidz Quran

Mendidik anak menjadi Hafidz Quran merupakan cita-cita bagi semua orang tua, di butuhkan proses , dan keuletan di setiap langkahnya, dari waktu di perdengarkan Al-Qur’an  hingga waktu mereka menghafal Al-Qur’an. Proses pemahaman antara anak dan orang tua juga perlu ditanamkan sejak dini. Sehingga nantinya antara orang tua dan putra/putrinya sendiri memiliki korelasi dan saling memahami dengan pembagian waktu menghafal yang di awali dari dalam keluarga.Lingkungan yang paling perlu di kondisikan ialah keluarga. Karena keluarga merupak catur pendidikan yang paling inti

Di tengah arus globalisasi yang begitu pesat, memimpikan generasi yang berakhlaq karimah juha hifzh quran, menjadi tantangan tersendiri. Terlebih tuntutan orang tua untuk menjadikan putra putri mereka pandai dalam  hal akademik maupun non akademik. Alhasil para orang tua memberikan jam tambahan khusus, seperti Les Matematika sepulang dari sekolah maupun di hari-hari lainnya. Mengikuti bimbingan, mulai dari online sampai mendatangkan guru les ke rumah-rumah.Hal tersebut di lakukan sebagian besar orang tua untuk menunjang kecerdasan kognitif putra-putri mereka.Apapun orang tua lakukan untuk menunjang Pendidikan bagi generasi yang cerdas.

Tapi sadarkah Ayah dan Bunda, bahwa hal terkadang kita lakukan, justru menjadi  suatu tekanan yang kelak menjadi bom waktu bagi keluarga kita,  Anak bukan hanya cerdas dalam urusan pendidikan saja, namun juga harus memiliki karakter yang di bangun. Yang lebih spesifik dalam islam itu disebut akhlaq.

Islam membagi menjadi beberapa kategori, di antaranya Akhlaq terhadap Orang Tua, teman sebaya, saudara hingga akhlaq mereka jika kelak menjadi orang yang memiliki jabatan.Maka berlomba lombalah para orang tua untuk membentuk insan yang bukan hanya cerdas secara akademik tatapi juga memiliki karakter yang unggul. Dan akhirnya di berikan program-program ekstra yang diyakini  dapat membentuk karakter mereka. Alhasil anak-anak tersebut terbebani dan makin lelah dengan sistem pendidikan.

Mendidik anak mejadi hafidz sejak dini

 

Mendidik anak menjadi hafidz sejak dalam sejak dini, merupakan hal yang perlu di lakukan supaya Ayah dan Bunda tidak kerepotan jika kelak mereka mulai belajar membaca AL-Qur’an. Di atas kita telah melihat fenomena yang sering terjadi di sekeliling kita, atau bahkan kita sendirilah yang menjadi letihnya dunia Pendidikan yang terus berganti ganti.Sebenarnya di dalam Islam berlaku sistem belajar seumur hidup, yaitu  sejak mereka di lahirkan hingga masuk keliang lahat, artinya proses belajar tersebut tidaklah instan, hanya dalam waktu yang singkat.

Pertanyaannya mulai dari mana mereka harus belajar, jika anda memiliki putra putri yang masih balita, tentu dari sisi orang tua yang harus di mulai. Bangun kebiasaan baik bersama orang tua, mulai dari memberi contoh berbicara sopan, membiasakan melihatorang tuanya berakhlaq santun, membaca Qur’an dan menjauhi atau tidak mengenalkan hal-hal mubah yang justru bisa menyebabkan kerusakan moral bagi para calon generasi Hafizh, Lha kok dari orang tua? Kenapa tidak mengajari anak saja?

Anak kita, melihat kebiasaan yang biasa orang tua lakukakan , karena indera pengelihatan lah yang pertama kali berfungsi pada si buah hati kita, ia akan terbiasa melihat kebiasaan orang tuanya, jika Ayah mereka biasa berlaku kasar, tentu mereka akan mempraktekkan kelakukan yang sama atas dasar kebiasaan orang tuanya. Ambil contoh membaca Al-Qur’an. Anak biasanya akan menghampiri orang tuanya, dan penasaran dengan yang dilakukan orang tua mereka , mulai dari meraba – raba, menganggu, sampai ingin melakukan hal yang sama dengan orang tuanya. Terkadang menyebalkan ya, kektika kita ingin berdua dengan Mushaf, justru si buah hati mengacaukannya dengan cara merebut atau mengganggu di tengah-tengah kita sedang asyik membaca Al-Qur’an.

Tidak usah risau atau merasa terganggu, justru hal itu masa-masa dimana anda sedang memberikan pendidikan kepada mereka untuk mengenalkan rutinitas membaca Kitabullah. Sehingga ada hal-hal dasar yang tidak usah di pertanyakan atau di perintahkan lagi, kelak mereka akan tumbuh dengan kebiasaan baik yang telah kita contohkan.

Rasulullah pun melakuakn hal sama, beliau lebih memilih memberikan suri tauladan ketimbang memberikan perintah tanpa adanya contoh dari diri Rasullah sendiri. Inilah yang disebut konsep madrosatu Al ula. Keluarga menjadi kunci dari segala jenis contoh dan kebiasaan yang baik .

Cara mendidik generasi hafidz

 

Cara mendidik generasi hafidz ialah di mulai dari lingkungan yang baik. Jika putra-putri kita bermain dengan lingkungan yang tidak baik, tentu akan memengaruhi psikoligi anak itu sendiri. Sering kali kita risau melihat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sulit di atur, dari situlah orang tua mulai menunjukkan taringnya dengan cara memaksa, mulai dari mengaji, belajar, sampai bangun untuk sholat. Wah, kalu sudah seperti ini repot juga ya.Tapi tidak perlu khawatir,berikut akan kami jabarkan.

 

  1. Lingkungan

Anak akan terus berkembang, dan selalu mengalami perubahan emosi, jangan sampai kita berputus asa dengan putra – putri kita hanya karena hal-hal sepele. Mulailah dengan memilihkan mereka lingkungan yang baik, Jika si buah hati masih berusia sekolah dasar, maka pilihannnya adalah, melihat dengan siapa ia bermain. Bangun lingkungan yang menyenangkan sekaligus islami dengan anak kita, buat lingkungan tersebut harmoni dengan tujuan pendidikan yang akan kita tanamkan, yaitu pola pendidikan Islam.

 

Mulai dari lingkungan rumah sampai lingkungan bermain, kenalkan mereka dengan Taman Pendidikan Al-Qur’an, Rumah Tahfidz, yang memilki metode pengajaran yang tidak mengekang tetapi memiliki nilai-nilai tarbiyah di dalamnya. Namun yang perlu di ingat, proses ini tidaklah instan, butuh proses dan waktu, minimal sama dengan anak kita mengenal lingkungan yang tidak baik.

 

Dan yang berikutnya ialah, mulailah dengan memperbaiki diri, dari Orang Tua.Contonhya memberikan tauladan meminta maaf dan memberikan arahan untuk meminta maaf. Hentika cara-cara menyuruh apalagi membentak, justru hal tersebut membuat mereka akan semakin merasa terkakang dab berontak. Lakukan hal tersebut minimal selama 1 bulan, jika  di rasa masih kurang berikan tambahan waktu, serta berikan ruang untuk anak-anak merenungkan kesalahan mereka.

  1. Makanan

Makanan merupakan kunci untuk mendorong tubuh menjadi sehat dan mudah menerima pelajaran, namun bukan hanya di tekankan pada makanan yang bergizi saja .Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Sa’ad,

Perbaikilah makananmu, maka do’amu akan mustajab.”(HR. Thobroni dalam Ash Shoghir.

Kunci makanan yang halal membantu kita membentuk generasi hafidz, tidak perlu menuntut makanan yang mewah untuk keluarga, namun utamakan makanan halal serta baik. Dengan begitu kelaurga akan penuh dengan keberkahan

Nah jika orang tua mau bersabar dalam mendidik baik dari segi makanan maupun lingkungan nantinya merekaakan tumbuh menjadi genarasi yang berkepribadian santun dan Taat kepada Allah.

Mewujudkan anak menjadi hafidz Al-Qur’an

 

Mewujudkan anak menjadi hafidz Qur’an tentu menjadi tujuan utama bagi setiap orang tua. Saatnya orang tua mengenalkan lembaga pendidikan yang kelak akan membimbingnya secara totalitas. Maka mulailah membuat image yang menyenangkan tentang pesantren, jangan di ancam apalagi di paksa, justru mereka semakin ogah untuk masuk pesantren.

Eits…, lha kenapa harus pesantren?

Orang tua juga harus paham, bahwa sampai hari ini, pendidikan berbasis boarding adalah pola pendidikan yang maksimal, kecuali orang tua bisa memastikan putra putrinya aman dari lingkungan yang buruk dan mampu mendidiknya ilmu agama secara masif. Berbeda dengan boarding yang yang lainnya, dalam pesantren pola pendidikan Boarding adalah full dengan Agama Islam. Jadi orang tua juga harus paham, bahwa di dalam ilmu Islam juga terkandung Ilmu Sains maumpun Ilmu-ilmu lainnya.Hebat bukan?

Bukan hanya itu Pesantren juga memberikan pendidikan yang masif tentangan  masalah Adab. Akhlaq sampai masalah-masalah sepele seperti cara masuk kamar mandi.  Dan yang lebih istimewa lagi mereka akan terbiasa berdua dengan Al-Qur’an. Nah ini yang kita tungu tunggu.

Al-Qur’an memiliki segudang keistimewaan, ia mampu melembutkan hati yang sekeras batu menjadi lunak dan mudah memahami. Al-Qur’an juga bisa menjadi obat bagi sakitnya seseorang. Bahkan orang yang tadinya tidak atau kurang santun, apabila ia telah terbiasa berdua dengan AL-Qur’an maka hatinya, sikapnya menjadi lembut dan mudah menerima masukan. Wah luar biasa sekali ya.

Jadi bagai para orang tua, cobalah bentuk insan yang berjiwa Al-Qur’an, bercita – cita menjadi hafidz/hafidzhoh agar kelak mereka mampu mengabdikan diri, bukan hanya kepada Orang Tuanya tetapi juga kepada Allah.

Kesimpulannya ialah catur pendidikan keluarga harus di maksimalkan sebaik mungkin, jika Ayah dan Bunda sudah memiliki konsep yang matang dair catur pendidikan keluarga, nantinya akan lahir generasi Hafidz Quran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *