Pondok Tahfidz MTs Darul Mujahidin

Pondok pesantren Darul Mujahidin adalah salah satu pondok pesantren Tahfidz Al-Quran yang menjadi tempat bagi pembentukan karakter Islami. Pondok pesantren Darul Mujahidin terbukti mencetak generasi Indonesia yang memiliki suri tauladan yang baik. Secara harfiah tahfidz Qur’an terdiri dari dua suku kata yakni tahfidz dan al-Qur’an. Tahfidz sendiri secara bahasa diartikan sebagai menghafal. Menghafal dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengulang sesuatu baik dengan membaca maupun dengan mendengar (Rauf, 2004: 49). Kata menghafal berasal dari kata hafal yang dalam padanan bahasa Arabnya ialah hafidza-yahfadzu-hifdzan yang artinya lawan dari lupa, selalu ingat dan sedikit lupa (Yunus, 1990: 105).
Sementara al-Qur’an ialah kitab suci yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat serta pedoman bagi manusia dalam mengarungi hidup dan kehidupannya. Sebagai kitab suci, al-Qur’an merupakan bacaan yang dimuliakan oleh Allah serta telah dijamin keasliaannya oleh Allah semenjak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW hingga hari kemudian. Karena kemuliaannya itulah, membaca Al-Qur’an menjadi bagian dari ibadah.
Berangkat dari dua pengertian di atas, tahfidz Qur’an dapat dimengerti sebagai mengumpulkan ayat-ayat Al-qur’an dengan cara menghafal. Semantara seorang yang telah hafal al-Qur’an secara keseluruhan disebut sebagai hafazhul Qur’an. Seorang penghafal al-Qur’an tidak semata-mata mampu melafalkan ayat-ayat dalam al-Qur’an, melainkan juga menyimpan setiap ayat suci al-Qur’an ke dalam pikiran dan hatinya. Hal tersebut selaras dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menerima wahyu dari Allah. Karena itulah, Nabi Muhammad SAW merupakan haffadhu Qur’an pertama di muka bumi.
Nabi Muhammad SAW senantiasa dibanjiri rasa rindu dalam menantikan wahyu yang diturunkan Allah melalui utusannya yakni malaikat Jibril. Karena itulah, metode dalam proses turunya Al Qur’an dilakukan Nabi Muhammad SAW melalui pendengaran. Beliau kemudian mengumpulkannya dengan menghafal dan memahami setiap ayat yang turun secara berangsur-angsur. Kemudian Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan para sahabat untuk menghafal dan memahami kandungan dari ayat-ayat suci al-Qur’an. Metode yang dilakukan oleh nabi itulah yang menjadi tauladan bagi para sahabat dan umat Islam di seluruh dunia.
Pentingnya Menghafal (tahfidz) al-Qur’an Dan Keutamaan Bagi Hafazhul Qur’an
Berangkat dari proses turunnya al-Qur’an di atas maka menghafal al-Qur’an menjadi suatu hal yang penting. Di satu sisi, Nabi Muhammad SAW menerima, mempelajari, dan mengajarkan al-Qur’an melalui jalan menghafal. Di sisi lain, hikmah dari turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur mengandung isyarat berupa dorongan bagi umat muslim agar dapat menghafal al-Qur’an.
Meskipun Allah telah menjamin kesucian al-Qur’an, namun upaya untuk menghafal setiap ayatnya menjadi salah satu cara untuk melestarikan kesucian al-Qur’an serta dapat menjadi medium untuk mendalami ajaran-ajaran Islam. Dengan kata lain, proses menghafal al-Qur’an juga menjadi upaya untuk menjaga kemurnian al-Qur’an dari beberapa golongan yang hendak merusaknya. Menjaga kemurnian Al Qur’an bagi umat muslim merupakan sunatullah.
Sebagai upaya kepedulian terhadap pemeliharaan al-Qur’an ialah dengan menghafalnya. Oleh karena itulah dalam beberapa hadis menyebutkan bahwa menghafal al-Qur’an mengandung hukum fardhu Kifayah. Artinya ialah, setiap umat muslim memiliki kewajiban untuk mempelajari (tahfidz), memahami, dan mengajarkan firman Allah yang tertuang di dalam al-Qur’an.
Untuk itulah dalam proses menghafalkan al-Qur’an merupakan salah satu bagian dari ibadah sebagaimana perintah Allah agar kita turut dalam merawat kesucian al-Qur’an. Hal tersebutlah yang menjadi keutumaan bagi para hafazhul Qur-an. Karena itulah, dalam usaha untuk menghafal Al Qur’an, kita harus senantiasa berlandaskan rasa ikhlas mengharap pahala dan ganjaran dari Allah. Ketika kita menjalankan perintah Allah maka kehidupan kita di dunia akan senantiasa mendapatkan karunia dan perlindungan dari-Nya.
Keutamaan lain bagi orang yang menghafal al-Qur’an dan mengajarkannya ialah mendapat syafa’at pada hari akhir. Syafa’at ini dapat menjadi pengisi bagi kekurangan ibadah kita semasa hidup di dunia. Hal ini diungkapkan oleh hadis, “Dari Abi Umamah R.A. berkata, aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: Bacalah Ai-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu pada hari Kiamat akan memberikan syafa’at kepada pembacanya’” (HR. Muslim).
Membekali anak dengan pengetahuan agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist merupakan harapan yang diinginkan oleh hampir sebagian besar orang tua. Dengan bekal tersebut, harapanya, seorang anak akan dapat menjadi pribadi yang memiliki akhlakul karimah dalam berpikir dan bertindak di kemudian hari dan dapat menyumbangkan kemanfaatan bagi masyarakat luas.
Dua tujuan di atas, kiranya lekat dengan model pendidikan yang diterapkan dalam sebuah pondok pesantren. Pondok pesantren menekankan pendidikan yang berbasis pada ajaran-ajaran keagamaan. Pendidikan yang diterapkan ialah mendorong para santri untuk mengeksplorasi khazanah pengetahuan Islam dari mulai fiqh, tafsir, ilmu mantik, sejarah kebudayaan Islam, hadist, menghafal al-Qur’an, dan lain-lain. Kendati menekankan pada ajaran keagamaan, bukan berarti pendidikan pesantren mengabaikan ilmu pengetahuan formal. Dalam model pendidikan pesantren, ajaran keagamaan menjadi pondasi bagi santri dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan formal.
Sejak awal kemunculannya, model pembelajran yang diterapkan dalam pesantren ialah berbasis asrama. Dengan model asrama ini bertujuan agar aktivitas belajar para santri dapat berjalan secara intens, fokus, memiliki disiplin yang kuat. Ketiga faktor tersebut menjadi indikator bagi optimalnya proses belajar.
Di era saat ini, banyak aktivitas yang seringkali membuat setiap anak kehilangan fokus belajarnya. Salah satunya ialah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Tanpa bimbingan yang terukur serta memdai dari orang tua maupun guru dapat membuat seorang anak terjerumus ke dalam hal-hal yang bersifat negatif dan menggangu proses pembelajaran si anak. Skema pendidikan pesantren dengan model asrama sedikit banyak dapat menjadi alternatif dalam membimbing proses belajar seorang anak agar dapat lebih fokus dan memiliki disiplin yang tinggi. Disiplin dan fokus dalam belajar sangat menentukan penguasaan sebuah pengetahuan seorang anak. Lebih-lebih apabila proses belajar tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan menghafal al-Qur’an.
Salah satu lembaga pendidikan pesantren yang memiliki visi mencetak generasi Qur’ani yang memiliki pengetahuan mendalam sekaligus memiliki kemampuan dalam menghafal al-Qur’an ialah pondok tahfidz anak. Untuk dapat mewujudkan generasi tersebut terdapat beragam model pendidikan yang diterapkan oleh pondok pesantren tahfidz Mutilan. Salah satu upaya untuk mewujudkan generasi Qur’ani tersebut diwujudkan dengan membuka pendidikan tahfidz bagi para anak 6 hingga 11 tahun.
Masa anak-anak di usia-usia tersebut memang menjadi masa yang sangat menentukan bagi perkembangannya kelak. Dengan kata lain, usia anak-anak menjadi masa keemasan bagi para orang tua dalam upaya untuk membangun serta mengembangkan karakter berpikir dan berperilaku ke arah yang lebih positif. Seorang anak memiliki pikiran yang mudah untuk menyerap informasi, memiliki keinginan untuk mandiri, memiliki keinginan belajar sambil bermain, melakukan sesuatu, serta melalui beberapa tahap pertumbuhan. Dengan karakterisitik tersebut, proses belajar memang sangat optimal dilakukan semenjak masa kanak-kanak.
Begitu juga dalam upaya untuk membimbing anak agar dapat memiliki kemampuan menghafal dan memahami al-Qur’an. Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa usia anak merupakan usia yang efektif dalam tahap belajar, terutama dalam proses menghafal. Hal ini selara dengan karakteristik anak-anak yakni mudah menyerap informasi atau pengetahuan. Oleh karena itu, dengan didukung oleh program pendidikan yang mampu membimbing secara terukur, efektif, disiplin, serta menyeluruh maka proses menghafal al-Qur’an akan berjalan secara optimal.
Untuk dapat mewujudkan model pendidikan demikian, pondok tahfidz anak merumuskan beragam metode pembelajaran yang dapat membimbing dan membina para santri agar dapat memiliki kemampuan untuk menghafal al-Qur’an secara menyeluruh. Hal ini diwujudkan dari program khusus yang terdapat dalam pondok pesantren tahfirdz anak. Program pertama ialah mempelajari hukum membaca al-Qur’an dari jenjang dasar hingga lanjutan. Setelah para santri mampu menguasai hukum membaca al-Qur’an maka akan didorong untuk menghafal setiap ayat al-Qur’an dengan muatan beban yang bertahap yakni setengah halaman, 1 juz, 5 juz, `10 juz dan seterusnya.
Program kedua ialah mengoptimalkan setiap hafalan dengan cara mengharuskan para santri mengulang setiap setoran hafalan dari ayat-ayat yang berada di belakang ke ayat yang ada di awal. Program ini juga termasuk memberikan beragam cara dan trik menghafal al-Qur’an.
Penerepan beragam model pendidikan di pondok tahfidz anak bertujuan untuk dapat efektifitas dan optimalisasi pembelajaran bagi setiap santri. Tentu saja setiap orang tua akan sangat selektif dalam penyediaan sarana belajar bagi anaknya agar dapat berkembang ke arah yang positif. Lebih-lebih dapat mendorong anaknya menjadi seorang yang menguasai dan menghafal al-Qur’an. Hal ini akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap orang tua.
Usia remaja memang usia yang krusial dalam proses perkembangan seseorang. Jenjang usia ini menjadi tahap transisi seseorang dalam membangun kede wasaan serta kemampuan baik dalam berpikir maupun dalam berperilaku. Karena itulah peran lingkungan, guru, terlebih keluarga sangat berpengaruh dalam proses perkembangannya di kemudian hari.
Bila ketiga bentuk itu tidak mampu mendorong dan memfasilitasi perkembangan anak maka akan sangat memungkinkan dirinya terjatuh pada hal-hal yang negatif. Pada usia remaja, seseorang akan terdorong untuk mencoba dan meniru beragam hal. Tak heran bila dalam jenjang usia remaja ini seseorang akan sangat mudah terpengaruh oleh pihak luar. Hal tersebut dapat memiliki dua kemungkinan yakni dapat menggiring anak untuk masuk ke dalam hal-hal yang positif atau justru pada hal-hal yang negatif.
Setiap orang tua tentunya sangat menginginkan anaknya dapat menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam serta kemampuan yang mumpuni. Sebab hal itulah yang dapat menjadi bekal bagi anak dalam mengarungi kehidupan di kemudian hari.
Harapan orang tua tersebut diwujudkan dengan cara mengirimkan anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan di berbagai sekolah. Hal itu didasarkan pada pandangan bahwa lembaga pendidikan atau sekolah menjadi ruang yang lebih efektif dalam mendorong proses belajar seseorang. Salah satu lembaga pendidikan yang sering menjadi pilihan para orang tua untuk menjadi ruang belajar anaknya ialah pondok pesantren. Namun yang menjadi ciri khas dari lembaga pendidikan pondok pesantren ialah perpaduan antara sekolah dengan mondok. Seperti yang diterapkan oleh pondok pesantren tahfidz MTS.
Model pendidikan pondok pesantren menerapkan pembelajaran yang memadukan antara ilmu pengetahuan formal dengan ajaran-ajaran keagamaan Islam. Dalam model pendidikan pesantren ini, posisi ajaran agama menjadi dasar bagi peserta didik dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan formal. Basis ajaran agama ini dapat membangun karakter seorang anak yang memiliki akhlakul karimah yang dapat membimbing hidup di dunia maupun di akhirat.
Dengan perpaduan model pendidikan tersebut para santri tidak hanya memiliki pengetahuan mengenai ajaran agama, melainkan juga dapat memberikan pengetahuan umum yang dapat menjadi bekal agar dapat bersaing di kancah global. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa banyak orang tua yang memasukkan anaknya dalam pondok pesantren.
Perpaduan antara mondok dan sekolah juga merupakan upaya untuk menghadirkan suasana dimana para santri dapat lebih fokus dalam proses belajar. Sebab dengan skema mondok tersebut para santri dapat terhindar dari pengaruh aktivitas-aktivitas yang dapat mengganggu konsentrasi belajarnya. Dalam suasana mondok, para santri juga akan dibimbing untuk dapat membangun sifat mandiri. Pembangunan karakter mandiri ini sangat berpengaruh bagi para anak yang memasuki usia remaja. Di samping itu, suasana mondok dapat menjadi medium untuk membangun jiwa sosial pada anak. Karena, selama masa mondok dirinya akan memiliki ruang interaksi yang luas, baik di asrama maupun di sekolah, dengan teman yang memiliki latar belakang pribadi dan daerah yang beragam.
Seiring perjalannya, model pendidikan pondok pesantren bertansformasi ke dalam beragam bentuk. Hal ini menjadi upaya pesantren agar dapat mengakomodasi kebutuhan yang hadir dalam setiap jaman. Salah satu model pendidikan yang diterapkan dalam pesantren ialah pondok tahfidz. Pondok pesantren ini memiliki ciri khas yakni bertujuan untuk mencetak generasi Qur’ani yang memahami dan menghafal al-Qur’an secara keseluruhan. Sebab membekali seorang anak dengan pemahaman mendalam mengenai al-Qur’an dapat memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan akhlaknya di kemudian hari. Inilah yang menjadi tujuan dalam pesantren tahfidz MTS.
Proses menghafal al-Qur’an bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Bahkan apabila seseorang telah mampu menghafal al-Qur’an dan pada kemudian hari melupakan hafalannya, maka dirinya akan mendapatkan dosa. Oleh karena itu, dalam proses belajar menghafal, para santri juga diberikan pemahaman dan bimbingan agar terus menerus merawat hafalannya. Agar dirinya dapat memiliki kemampuan untuk menghafal sekaligus merawat hafalannya, maka sejak awal proses belajar, metode pendidikan yang diterapkan telah memiliki target untuk mewujudkan kedua hal tersebut.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa proses mempelajari, menghafal, serta merawat hafalan al-Qur’an pada intinya membutuhkan kesabaran dan semangat belajar yang tinggi. Perlu dukungan yang memadai, baik dari segi kualitas materi belajar maupun dalam segi dukungan psikologis bagi setiap santri. Jika hanya materi semata, maka optimalisasi belajar kemungkinan tidak berjalan dengan baik. Kedua hal tersebut menjadi bagian dari model pendidikan yang diusung oleh pondok tahfidz MTS.
Model pendidikan yang diterapkan akan dapat berjalan dengan baik bila ditopang oleh tujuan, target, kualitas tenaga pengajar, pemilihan materi, serta fasilitas yang disediakan oleh lembaga pendidikan tersebut. Belum lagi dengan model pendidikan mondok dan sekolah akan memberikan suasana yang dapat menunjang fokus belar. Melalui model asrama suasana belajar akan lebih asik karena para santri tidak merasa kesepian dan terus termotivasi oleh temannya saat menjalani proses menghafal al-Qur’an.
Model pembelajaran tahfidz akan dilakukan dari mulai mengeksplorasi pengetahuan dasar seperti hukum-hukum membaca al-Qur’an serta khazanah pengetahuan di balik setiap ayat yang terdapat di dalam kitab suci umat Islam ini. Memadukan kedua hal tersebut bertujuan agar para santri tidak hanya mampu menghafal ayatnya semata namun juga memiliki pengetahuan menadalam seputar ajaran-ajaran keagamaan yang terkandung dalam al-Qur’an. Para santri juga akan diberi trik dan cara mengahafal ayat secara efektif untuk dapat memudahkan mereka dalam mengingat setiap ayat di luar kepala.
Semua hal itu masuk ke dalam rancangan pendidikan yang berusaha dipenuhi oleh pesantren tahfidz MTS. Melalui model pendidikan yang memadukan mondok dan sekolah, pesantren tahfidz MTS berupaya untuk mencetak generasi Qur’an yang dapat memahami dan menghafal al-Qur’an secara keseluruhan agar dapat memberi kemanfaatan bagi masyarakat secara luas. Pembekalan ajaran agama melalui pemahaman sekaligus menghafal al-Qur’an ini juga menjadi hal yang penting untuk diberikan pada usia remaja agar dirinya dapat memiliki pondasi agama yang kuat dalam menghadapi kehidupan di masa depan.
Kehadiran pondok pesantren menjadi salah satu motor dalam penyebaran Islam di Indonesia. Dalam gerbong sejarah perkembangannya, memang telah memunculkan beragam varian dari mulai tradisional hingga modern atau memadukan keduanya. Hal tersebut tidak lepas dari upaya pondok pesantren untuk menyesuiakan kebutuhan dan tantangan zaman yang dihadapi oleh umat. Akan tetapi, transformasi model itu tidak serta merta mencerabut pesantren dari akarnya yakni sebagai wadah yang menekankan pendidikan agama serta membangun karakter akhlakul karimah.
Berangkat dari akar sejarahnya, pondok pesantren tidak hanya mewujud sebagai lembaga pendidikan semata namun juga menjadi lembaga sosial. Tidak heran apabila pesantren tidak dapat dilepaskan dari upaya untuk menjawab kebutuhan yang dihadapi umat atau masyarakat secara luas. Hal itulah yang membuat eksitensi pondok pesantren tidak terasing di tengah-tengah masyarakat. Bahkan hubungan keduanya terbilang harmonis sebab pondok pesantren mendapatkan dukungan dan apresiasi dari masyarakat. Rasa kepercayaan para orang tua untuk mengirim anaknya belajar di pesantren yang tersebar di beberapa daerah menjadi gambaran dari dukungan masyarakat terhadap pesantren.
Selaras dengan akar sejarahnya, pondok pesantren merupakan ruang belajar untuk mengeksplorasi dan mendalam khazanah dan ajaran-ajaran keagamaan. Dari mulai mengenalkan para peserta didik terhadap ajaran-ajaran dasar keislaman seperti membaca al-Qur’an, hadist, serta khazanah Islam, hingga pada pengetahuan yang lebih mendalam seperti tafsir, fiqh, tasawuf, hingga bagaimana memahami al-Qur’an.
Dalam pondok pesantren, upaya untuk memahami dan mendalam al-Qur’an menjadi salah satu bagian utama dalam sistem pembelajarannya. Dalam agama Islam, al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi pedoman dalam mengarungi hidup dan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan mempelajari al-Qur’an secara mendalam, akan menjadi jembatan untuk membangun karakter keislaman dalam benak dan pikiran para santri. Di samping itu, dengan pengetahuan mengenai al-Qur’an yang menyeluruh serta mendalam tentunya dapat menghasilkan insan manusia yang mampu menyumbang kemanfaatan bagi kehidupan umat. Hal ini selaras dengan ajaran Islam untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dan seisi alam.
Metode pembelajaran untuk memahami dan mendalami al-Qur’an secara efektif menjadi perlu untuk dilakukan. Apalagi bila dapat menghafal keseluruhan ayat-ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an. Untuk dapat menunjang kebutuhan akan efektifitas proses belajar tersebut mendorong lahirnya beberapa pondok pesantren yang konsen dalam melahirkan para peserta didik yang dapat memahami, mendalami al-Qur’an sekaligus dapat menghafal keseluruhan ayatnya. Pondok Pesantren yang mengusung konsep pembelajaran demikian ialah pondok pesantren tahfidz qur’an.
Mendorong lahirnya insan penghafal qur’an menjadi karakteristik dari konsep pendidikan yang diusung oleh pondok pesantren tahfidz. Metode pendidikan dalam pesantren ini memandu para peserta didik untuk dapat memahami dan memperdalam khazanah keagamaan sekaligus dapat menghafal al-Qur’an. Dalam menerapkan pendidikan tersebut muncul beragam metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi kemampuan para peserta didik untuk mempu menghafal al-qur’an.
Dalam upaya untuk belajar terutama menghafal al-Qur’an memang perlu didukung oleh program pembelajar yang terukur serta efektif. Itulah yang menjadi alasan setiap progam pendidikan tahfidz qur’an memiliki beragam model pembelajaran yang menyesuaikan jenjang usia maupun psikologis para peserta didik. Pondok pesantren tahfidz ini juga membuka jenjang pendidikan setingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.
Sistem pendidikan pondok pesantren yang mengharuskan para peserta didik tinggal dalam sebuah asrama, dapat membuat peserta didik fokus dalam belajar dan tidak terganggu dengan aktivitas lain yang dapat membuat proses belajarnya tidak berjalan secara maksimal. Hal yang menjadi keunggulan dari efektifitas pembelajara dalam pondok pesantren ialah intensitas belajar yang lebih besar ketimbang di sekolah-sekolah formal.
Di samping itu, pembelajaran yang efektif untuk mendorong seseorang dapat memahami dan menghafal al-Qur’an ialah pada masa kanak-kanak. Sebab, usia anak-anak menjadi masa keemasan dalam aktivitas belajar. Pada tingkatan usia ini, proses menghafal al-Qur’an memiliki peluang yang besar sebab seorang anak memiliki daya ingat maupun aktivitas menghafal yang lebih kuat ketimbang orang dewasa. Di samping itu, membangun kemampuan menghafal al-Qur’an sejak dini dapat menjadi pondasi dalam membangun karakter akhlakul karimah yang dapat membimbingnya perkembangannya di kemudian hari.
Untuk dapat mengkaji dan mendalami sumber-sumber pengetahuan Islam yang terdapat di dalam al-Qur’an memang memerlukan model pembelajaran yang terukur, sistematis, serta menyeluruh. Model pembelajaran tersebut di antaranya ialah membangun keterampilan dalam membaca al-Qur’an dan memaknai ayat serta khazanah di balik proses turunnya al-Qur’an. Proses belajar demikian terbilang menjadi dasar dalam usaha untuk mendapatkan pengetahuan yang mendalam mengenai ajaran-ajaran yang terdapat dalam kita suci umat Islam ini. Terlebih apabila proses belajar tersebut diarahkan untuk dapat menghafal setiap ayat al-Qur’an secara menyeluruh.
Menghafal al-Qur’an bukanlah sebuah proses belajar yang mudah. Perlu usaha dan tekad yang keras dalam proses belajar tersebut. Kedua hal itu juga perlu ditopang oleh rancangan pembelajaran yang memiliki kompetensi untuk dapat membimbing dan membina lahirnya generasi tahfidz al-Qur-an. Dalam proses pembimbingan dan pembinaan tersebut diwujudkan melalui terfasilitasinya beragam aspek pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada materi dalam proses pembelajara semata. Melainkan juga dapat memberi dukungan psikologis bagi para peserta didik agar tidak mudah putus semangat saat mengarungi proses belajar menghafal.
Rancangan pembelajaran itulah yang menjadi pijakan bagi pondok pesantren tahfidz Muntilan. Beberapa aspek pembelajaran yang diusung oleh pondok pesantren tahfidz qur’an di antaranya ialah aspek tujuan pembinaan, target pembelajaran, serta metode tahfidz qur’an.
Tujuan pembinaan dan target pembelajaran menjadi hal yang sangat mendasar dalam lembaga pendidikan. Aspek ini akan menentukan orientasi dan model pendidikan yang akan diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan. Tujuan pembinaan yang terdapat dalam pondok pesantren tahfidz Muntilan ini salah antara lain ialah mampu melahirkan para generasi Qur’ani yang tidak hanya memiliki kemampuan dalam membaca dan menghafal al-Quran. Namun juga mampu melahirkan generasi yang mencintai, memahami, serta mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an serta hadist.
Tujuan berikutnya ialah mencetak generasi tahfidz qur’an yang memiliki akhalkul karimah dan jiwa kepemimpinan yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Berikutnya ialah dapat mencetak hafizd qur’an yang dibekali dengan wawasan ilmu pengetahuan serta profesionalitas agar dapat bersaing dalam kancah global. Tujuan pembinaan ini juga membimbing setiap peserta didik agar dapat meneruskan studinya ke jenjang perguruan tinggi.
Di satu sisi, tujuan pembinaan dan target pembelajaran memberikan pengaruh bagi metode tahfidz qur’an yang diterapkan dalam aktivitas belajar-mengajar. Di sisi lain, metode tahfidz ini juga menjadi indikator bagi terwujudnya tujuan dan target pendidikan di pondok pesantren tahfidz Muntilan. Artinya, kedua hal tersebut memiliki pengaruh yang bersifat mutual atau saling mempengaruhi. Hal ini disebabkan karena metode tahfidz qur’an ini akan bersentuhan secara langsung dengan aktivitas belajar dalam level keseharian. Sehingga, apabila metode tahfidz yang diterapkan ini tidak menghasilkan pola belajar yang efektif, maka tujuan pembinaan dan target pembelajaran pun akan terhambat.
Metode pembelajaran tahfidz qur’an ini dilakukan melalui beragam tahapan. Tahapan pertama ialah setoran hafalan yang menekankan pada kemampuan memahami tajwid, tartil, serta hukum-hukum membaca al-Qur’an lainnya. Tahapan kedua ialah setiap peserta didik menyetorkan hafalan beberapa ayat di hadapan para ustadz secara berulang setiap hari (kecuali hari libur) dengan waktu yang berbeda-beda. Tahap ini dilakukan agar peserta didik dapat secara bertahap menghafal al-Qur’an di luar kepala mereka. Tahap ketiga ialah porsi setoran hafalan lebih banyak ketimbang tahap kedua, karena setoran dilakukan per juz. Model hafalannya ialah setiap 1, 5, 10 juz dan seterunya yang mana setiap setoran akan mengharuskan peserta didik untuk mengulang dari awal surat sesuai dengan kelipatan juz yang akan ia setorkan.
Model hafalan ini juga tidak hanya mengharuskan setiap peserta didik untuk menyetorkan hafalan dari awal Juz melainkan juga setoran dari akhir juz. Model hafalan ini terbilang sebagai model lanjutan di mana para santri akan diukur kemampuannya, tidak hanya dalam menghafal ayatnya semata, namun juga hukum-hukum membaca Al-Qur’an. Kemampuan tersebut juga menentukan apakah peserta didik dapat masuk ke juz selanjutnya atau tidak.
Untuk dapat mengoptimalkan kualitas pembelajaran menghafal Al-Qur’an ini, pondok pesantren tahfidz Muntilan memiliki program unggulan. Program unggulan ini ialah mendorong kemampuan para santri dalam mengusai hafalan dan bacaan Al-Qur’an. Program pertama ialah tahsin. Program ini dijalankan dengan mengukur terlebih dahulu kemampuan para peserta didik dalam membaca dan menghafal al-Qur’an. Kemudian, setiap peserta didik akan dibimbing untuk mengenal dan mempelajari dasar hukum-hukum membaca al-Qur’an dan teknik-teknik dalam menghafal Al-Qur’an.
Program unggulan kedua ialah memperdengarkan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an dihadapan para ustadz. Aktivitas pembelajaran ini menekankan pada bunyi hafalan dan kemampuan hukum-hukum bacaan Al-Qur’an. Program ini juga mengharuskan peserta didik untuk menyetorkan hafalan tidak hanya dari awal namun juga dari belakang juz. Aktivitas belajar demikian bertujuan agar para peserta didik dapat memahami serta menghafal ayat Al-Qur’an secara menyeluruh berdasarkan letak dan kandungan dalam setiap Juz.
Tujuan, target, serta program unggulan dalam model pembelajaran yang diterapkan di pondok pesantren tahfidz Muntilan merupakan sebuah upaya dalam mengoptimalkan pendidikan yang diberikan. Agar dapat mencetak generasi Al-Qur’an yang memiliki akhlak, memiliki jiwa kepimimpinan, profesional, serta bermanfaat bagi masyarakat secara luas.
Proses menghafal al-Qur’an diperlukan usaha dan tekad yang keras. Selain itu diperlukan juga rancangan belajar yang memadai agar kemampuan menghafal al-Qur-an dapat berjalan secara optimal. Sebab rancangan belajar dapat mencakup metode, target, serta tujuan yang akan dicapai dalam setiap tahap menghafal al-Qur’an. Bila rancangan belajar tidak dapat menjadi penunjang dalam proses belajar maka kemampuan menghafalpun akan terhambat. Rancangan pembelajaran juga menjadi salah satu indikator untuk mengukur kualitas sebuah lembaga pendidikan.
Rancangan belajar ini dapat berupa tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek akan mencakup metode belajar yang diterapkan pada level keseharian, termasuk bagaimana menjaga semangat belajar seorang anak. Sementara tujuan jangka panjang mencakup target yang akan dicapai dalam jangka waktu yang lebih lama. Berupa capaian belajar persemester, jumlah hafalan, serta evaluasi pembelajaran. Pada intinya, rancangan belajar ini akan menentukan kemampuan dan pengetahuan santri selama mengikuti proses pendidikan.
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa rancangan belajar ini akan mempengaruhi metode pembelajaran. Dalam pondok pesantren tahfidz, hal ini direkam melalui rumusan program unggulan dalam aktivitas belajar-mengajar. Program unggulan pertama ialah metode hafalan al-Qur’an secara berjenjang. Pada tahap pembelajaran dasar, setiap santri akan diajarkan secara mendalam mengenai hukum-hukum bacaan al-Qur-an. Setelah mereka mampu menguasai hukum-hukum bacaan tersebut barulah mulai memasuki tahap menghafal al-Qur’an dengan beban hafalan dari mulai setengah lembar, 1 juz, 5 juz, hingga seterusnya.
Program berikutnya ialah setiap setoran hafalan akan terbagi dalam dua bentuk yakni para santri akan membacakan ayat hafalannya dari awal juz dan disusul dengan dari belakang juz. Metode setoran itu berutujuan agar setiap santri mampu menguasai setiap ayat secara keseluruh di luar kepala mereka. Di samping itu, dalam program ini juga akan diberikan trik dalam menghafal al-Qur’an secara efektif.
Proses pembelajaran ini juga tidak menitikberatkan pada kemampuan mengahafal semata. Melainkan juga mengajarkan para santri agar dapat memahami kandungan makna yang terdapat di setiap ayat al-Qur’an. Hal ini selaran dengan tujuan pondok pesantren tahfidz dalam upaya untuk mencetak generasi hafidz Qur’an yang memiliki kemampuan menghafal sekaligus memahami ajaran-ajaran agama yang terkandung dalam setiap ayat al-Qur’an.
Pondok tahfidz ini tidak hanya mengajarkan mengajarkan ilmu keagamaan, namun juga mengkombinasikannya dengan bidang-bidang keilmuan umum. Dengan kata lain, model pendidikan yang diusung oleh pondok pesantren tahfidz ini memadukan antara konsep mondok dengan sekolah. Salah satunya ialah jenjang pendidikan di Madhrasah Tsanawiyah (MTS).
Rancangan pembelajaran yang telah disebutkan di atas juga diterapkan dalam proses pembelajaran di jenjang MTS. Dalam hal ini, konsep mondok dan sekolah ini dapat menjadi salah satu model pendidikan yang dapat menghadirkan suasan belajar yang fokus, intens, disiplin, terukur, serta mengasyikan. Penerapan konsep belajarnya ialah meletakkan ajaran keagaman sebagai pondasi berpikir serta berperilaku dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan umum. Dengan bekal pendidikan tersebut para santri diharapkan dapat memiliki pengetahuan mendalam mengenai sains, teknologi, ilmu sosial, ilmu kebudayaan, dll. yang selaras dengan nilai-nilai ajaran keislaman. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa pondok pesantren tahfidz Muntilan ini menjadi salah satu lembaga pesantren tahfidz MTS terbaik terbaik Jawa Tengah.
Rancangan pembelajaran di pesantren tahfidz MTS terbaik Jawa Tengah ini juga ditopang oleh tersedianya sarana dan prasarana pembelajara berupa pemenuhan fasilitas di asrama dan sekolah dan tenaga pengajar yang memiliki dedikasi serta kredibilitas.
Rancangan pembelajaran dan pengadaan sarana prasarana di atas bertujuan untuk mencetak generasi yang dapat memiliki kemampuan dalam berkompetisi di kancah nasional maupun global. Salah satunya ialah dengan mendorong santri untuk mengikuti beragam perlombaan dan program-program pelatihan nasional maupun global, semisal MTQ, Pidato bahasa Arab, Pidoto bahasa Indonesai, perolombaan hafalan al-Qur’an, program Dauroh, dll. Keikutsertaan santri tersebut bertujuan agar dapat mengasah kemampuan pengetahuan, keterampilan tahfidz, profesionalitasnya, dan menjadi bekal untuk dapat masuk ke jenjang perguruan tinggi unggulan.
Keikutsertaan para santri dalam perlombaan bergengsi dan keberhasilannya menjadi juara lomba merupakan bentuk-bentuk prestasi pondok pesantren tahfidz MTS. Itulah yang menjadi alasan pondok ini didapuk sebagai pesantren tahfidz MTS terbaik Jawa Tengah. Bentuk presatasi dari pendidikan di sini ialah dapat melahirkan lulusan tahfidz al-Qur’an yang dapat menyumbang kemanfaatan bagi masyarakat secara luas.
Membekali para santri dengan ajaran keagamaan yang berbasis pada al-Qur’an dan hadis dapat membimbing hidup mereka baik di dunia maupun di akhirat. Di samping itu, dengan mencetak para generasi Qur’ani ini juga diharapkan dapat menyumbang kemanfaatan bagi masyarakat secara luas. Hal tersebut yang menjadi visi dari pesantren tahfidz MTS terbaik Jawa Tengah.
Sumber:
Rauf, Abdul Aziz Abdul. 2004. Kiat Sukses Menjadi Hafidz Qur’an Da’iyah. PT Syaamil Cipta Media: Bandung.
Yunus, Mahmud. 1990. Kamus Arab-Indonesia. Hidakarya Agung: Jakarta.

pondok-pesantren-tahfidz-darul-mujahidin muntilan

Tentang Pondok Darul Mujahidin

Pondok Pesantren Darul Mujahidin adalah pesantren yang berada di bawah naungan organisasi masyarakat Muhammadiyah. Cikal bakal lahirnya Darul Mujahidin tidak bisa lepas dari ketokohan pendirinya yaitu KH. Ahmad Syadzali. KH. Ahmad Syadzali adalah seorang pejuang yang tergabung dalam Laskar Hisbullah. Ia berjuang melawan Belanda di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut catatan,  KH. Ahmad Syadzali tergabung dalam Batalyon Munawar. Di usia 84 tahun, ketika pensiun dari Laskar Hisbullah, KH. Ahmad Syadzali mewakafkan diri untuk berkhidmat kepada Muhammadiyah. Nama Darul Mujahidin sendiri adalah pemberian dari ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu KH. Ahmad Azhar Basyir.

Target Output

Kami berupaya agar lulusan kami memiliki kriteria sebagai berikut,

  • Memahami dan mampu menerapkan Akhlaqul karimah sejalan dengan Qur’an dan hadist.
  • Hafal AI-Quran minimal 15 juz dengan tahsin yang benar.
  • Menguasai ilmu dasar Tahsin dan Tajwid Al-Qur’an.
  • Hafal Hadits-hadits Pilihan.
  • Hafal Dzikir Pagi Petang serta doa-doa harian
  • Memiliki Akidah yang Benar dan Lurus
  • Mampu memahami dan menerapkan fiqih dasar / fiqih sehari-hari.
  • Memiliki pondasi logika dan kecakapan berbahasa yang baik.

Mengapa Darul Mujahidin?

Darul Mujahidin berlokasi di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Magelang yang masih memiliki lingkungan yang Asri dan juga Alami serta jauh dari Hiruk Pikuk Perkotaan sehingga memudahkan Anak Didik kami untuk berkonsentrasi dalam belajar serta menghafal Al-Qur’an.

Lingkungan Asri & Alami

Lokasi kami terletak di tengah lingkungan yang Asri dan Alami serta jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Materi Pembelajaran

Materi Pembelajaran di Pesantren Darul Mujahidin adalah kurikulum integrasi dengan pembelajaran melalui media buku berbahasa Arab​

Pengajar Berpengalaman

Pengajar Al Qur’an Lulusan dari pesantren adalah Hafidz/Hafidzhoh serta lulusan dari Universitas Islam lainnya.

Beasiswa Kader

Bagi para santri/santriwati yang berprestasi dan siap menjadi kader akan difasilitasi beasiswa hingga sarjana​

Kelas Takhassus

Bagi mereka yang belum bisa membaca Al-Qur'an dengan baik akan diberikan kelas bimbingan selama 3 bulan untuk menuntaskan bacaan Al-Qur'an

Fasilitas Pendukung

Untuk lingkungan belajar yang baik kita menyediakan fasilitas-fasilitas yang mumpuni untuk mendukung anak didik kita belajar. ​

Lingkungan Berbahasa

Penerapan lingkungan berbahasa Arab sehingga para santri yang masih awal terbiasa dengan Bahasa Arab​

APA KATA MEREKA

“Yang jelas saat ini MTs Darul Mujahidin sudah bisa sebagai pilihan orang tua yang ingin melanjutkan pendidikan di tingkat lanjutan pertama bagi lulusan SD /MI, karena di samping memiliki prestasi di bidang tahfidz maupun akademik juga menanamkan nilai karakter islam”

testimonial-ponpes-tahfidz-Ahmad-Zaini

Ahmad Zaeni, S.Pd.I

Kepala MI Muhammadiyah Ngawen Alumni MTs Darul Mujahidin tahun 1987

“sekolah yg mendidik muridnya tentang betapa pentingnya ilmu agama, tanpa mengesampingkan ilmu umum hal ini sesuai dengan pesan nabi yg berbunyi Allah sangat membenci orang yg pandai urusan dunia namun bodoh dalam urusan agama”

testimonial-ponpes-tahfidz-Hamid

Hamid

Lulusan MTs Darul Mujahidin tahun 2008

“Darul Mujahidin sangat luar biasa, mereka mampu mencetak hafidz/hafidzhoh dalam waktu 3 tahun, tentu ini menjadi investasi yang luar biasa bagi bapak/ibu orang tua.

testimonial-ponpes-tahfidz-Sugiyono,MPd

Sugiyono, MPd

Majlis Dikdasmen Muntilan

Informasi Terbaru

Artikel Terbaru

Alamat Kami

Dusun Ngadiretno, Rt 03 Rw 17 Desa, Ponalan, Tamanagung, Kec. Muntilan, Magelang, Jawa Tengah 56413

Telepon Kami: 0857-8624-8945

Email Kami: darulmujahidinmuhammadiyah@gmail.com